
Kuningan (15/09) — Masa awal memasuki jenjang SMP menjadi kesempatan bagi para santri untuk membangun relasi baru, mengenal beragam karakter, sekaligus belajar menempatkan diri dalam lingkungan sosial. Melihat pentingnya hal tersebut, SMPIT Al-Multazam 2 menyelenggarakan Seminar Bimbingan Konseling (BK) untuk santri kelas 7 dengan tema “Berani Baik, Berani Melawan Bullying: Membangun Pertemanan yang Aman dan Positif”, Selasa, 15 September 2026, bertempat di Aula SMPIT Al-Multazam 2.

Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh santri kelas 7 dan dihadiri oleh Mudir Ma’had Al-Multazam 2, KH. Dul Ahmad Bachtiar, Lc., M.Pd.I., para asatidz dan asatidzah, serta pendamping santri. Seminar menghadirkan Aiptu Dedi Wahyudin, S.H., Kanit Binmas Polsek Kuningan, yang memberikan pembekalan kepada santri mengenai pentingnya menjaga hubungan pertemanan dan membangun keberanian untuk mencegah terjadinya bullying di lingkungan sekolah maupun asrama.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Dul Ahmad Bachtiar, Lc., M.Pd.I. menyampaikan bahwa lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seorang santri. Menurut beliau, kelas 7 merupakan masa adaptasi yang perlu diisi dengan kebiasaan positif, termasuk belajar menghormati teman, menjaga perkataan, dan tidak mudah memberikan penilaian terhadap orang lain.
“Jadikan teman sebagai tempat untuk saling menguatkan. Jangan sampai kehadiran kita justru membuat orang lain merasa takut atau tidak nyaman. Akhlak yang baik terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang berada di sekitar kita,” tutur beliau dalam arahannya kepada para santri.
Memasuki sesi materi, Aiptu Dedi Wahyudin, S.H. mengajak para santri memahami bullying dari berbagai sudut pandang. Bullying dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik melalui tindakan maupun perkataan, bahkan dapat terjadi dalam interaksi di dunia digital. Karena itu, santri perlu memiliki kepekaan untuk mengenali perilaku yang dapat menyakiti atau merugikan orang lain.

Para santri juga diajak untuk tidak menganggap semua tindakan sebagai sekadar candaan. Sebuah perkataan yang menurut seseorang lucu bisa saja membuat orang lain merasa malu, sedih, atau tidak nyaman. Dari sinilah pentingnya membangun kesadaran bahwa setiap ucapan dan tindakan memiliki dampak terhadap orang lain.
Pembekalan semakin ditekankan pada bagaimana santri dapat mengambil sikap ketika menemukan tindakan bullying. Santri tidak diarahkan untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan, melainkan dengan langkah yang tepat dan aman, seperti tidak ikut-ikutan melakukan perundungan, memberikan dukungan kepada teman, serta menyampaikan kejadian kepada guru, pembimbing, atau orang dewasa yang dapat membantu.

Antusiasme para santri terlihat selama kegiatan berlangsung. Materi yang disampaikan menjadi ruang bagi mereka untuk merefleksikan kembali bagaimana cara berteman, berkomunikasi, dan memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan tersebut juga relevan dengan kehidupan santri yang menjalani aktivitas bersama dalam lingkungan sekolah dan asrama.
Melalui Seminar BK ini, SMPIT Al-Multazam 2 tidak hanya ingin memberikan pemahaman mengenai bullying, tetapi juga menanamkan budaya saling menghargai dan peduli sejak awal perjalanan santri di jenjang SMP. Setiap santri diharapkan mampu menjadi bagian dari terciptanya lingkungan yang nyaman dengan membangun komunikasi yang baik, menghargai perbedaan, dan berani mengambil sikap ketika melihat perilaku yang tidak sesuai dengan nilai kebaikan.

Sebab, lingkungan yang positif tidak tercipta hanya karena aturan, tetapi juga melalui pilihan setiap individu untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Dari kelas, asrama, hingga pergaulan sehari-hari, semangat untuk menjadi teman yang menguatkan diharapkan terus tumbuh dalam diri setiap santri SMPIT Al-Multazam 2.

Berani menjadi baik, berani peduli, dan berani menjaga sesama.
Masya Allah, Barakallahu fiikum.
