Kuningan (25/08) — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Pondok Pesantren Terpadu Al-Multazam 2 bukan sekadar agenda tahunan. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, para santri diajak untuk kembali melihat sosok Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam membangun karakter, menjaga akhlak, dan menjalani kehidupan.

Bertempat di Masjid Jami’ As-Sahl, kegiatan yang diselenggarakan bersama Majelis Taklim Khairunnisa ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Para santri Al-Multazam 2 bersama ibu-ibu Majelis Taklim dari Desa Linggajati dan desa-desa penyangga hadir dalam satu majelis untuk mengenang kelahiran manusia pilihan Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW.

Kebersamaan tersebut turut dihadiri oleh Mudir Ma’had Al-Multazam 2, jajaran pimpinan pondok pesantren, para asatidz dan wal asatidzah, serta keluarga besar Majelis Taklim. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menjadi gambaran bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW mampu menjadi jembatan yang mempererat ukhuwah antara pesantren dan lingkungan sekitar.
Suasana semakin semarak ketika tim hadroh STIQ Al-Multazam melantunkan shalawat. Lantunan tersebut menjadi pembuka yang mengantarkan jamaah untuk sejenak meninggalkan kesibukan dan menghadirkan kembali rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an.

Dalam sambutannya, Mudir Ma’had Al-Multazam 2 mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada seremonial. Momentum ini harus menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat perjalanan Rasulullah SAW sekaligus menjadikan kehidupan beliau sebagai sumber inspirasi dalam membentuk pribadi yang berkarakter.
Pesan tersebut semakin diperdalam melalui Taujjih Rabbani yang disampaikan oleh Al-Habib Muhammad Reza bin Abdullah Syihab. Jamaah diajak untuk menelusuri kembali perjalanan dakwah Rasulullah SAW, berbagai tantangan yang beliau hadapi, serta bagaimana kesabaran, kasih sayang, kejujuran, dan keteguhan beliau menjadi teladan bagi umat hingga hari ini.
Bagi para santri, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan di era modern tidak boleh membuat generasi muda kehilangan arah. Perkembangan teknologi dan perubahan zaman harus diimbangi dengan kekuatan iman dan akhlak. Rasulullah SAW tetap menjadi figur yang relevan untuk diteladani dalam membangun sikap disiplin, bertanggung jawab, menghormati orang lain, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.
Rangkaian kegiatan kemudian mencapai suasana yang penuh haru saat Mahalul Qiyam dilaksanakan. Jamaah berdiri bersama sembari melantunkan shalawat. Masjid Jami’ As-Sahl pun dipenuhi suasana khidmat yang mengingatkan kembali setiap hati tentang besarnya kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H akhirnya menjadi lebih dari sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah. Ia menjadi ruang untuk melakukan refleksi: sejauh mana nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW telah hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Al-Multazam 2, momentum ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu dan keterampilan, tetapi juga kokoh dalam iman serta mulia dalam akhlak. Sebab, meskipun zaman terus berubah, keteladanan Rasulullah SAW akan selalu menjadi cahaya yang menuntun umat menuju kebaikan.
Semoga semangat Maulid Nabi ini tidak berhenti ketika acara berakhir, tetapi terus tumbuh dalam keseharian para santri, asatidz, keluarga besar Al-Multazam 2, dan masyarakat sekitar.
Beda zaman, beda tantangan, tetapi satu teladan: Rasulullah Muhammad SAW.
